Anies Ledakkan Debat Nasional: ‘Sistem Pendidikan Kita Sudah Kuno, Harus Dirombak Total!’

Kritik pedas Anies Baswedan terhadap kondisi sistem pendidikan kembali mencuri perhatian publik. Dalam sebuah forum pendidikan di Jakarta, ia melontarkan pernyataan yang memicu perdebatan luas: “Sistem pendidikan kita sudah kuno. Kita sedang memaksa anak-anak hidup di masa depan, tetapi dengan perangkat masa lalu.” Ucapan tersebut langsung menyebar cepat di media sosial dan menjadi bahan diskusi di berbagai kelompok masyarakat.

Mantan gubernur DKI Jakarta itu menyoroti bahwa banyak aturan, metode, dan struktur pendidikan nasional yang menurutnya tidak lagi relevan dengan kebutuhan abad ke-21. Ia menilai bahwa sistem yang ada cenderung mempertahankan cara lama, bahkan ketika dunia sudah berubah drastis dalam satu dekade terakhir.

Kurikulum yang Tidak Bergerak Secepat Realitas

Dalam pidatonya, Anies menyinggung bahwa kurikulum nasional belum mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia menggambarkan situasi di mana sekolah masih menekankan hafalan dan pendekatan tunggal dalam pembelajaran, sementara dunia nyata menuntut kreativitas, kolaborasi, pemecahan masalah, dan literasi digital tingkat tinggi.

“Bagaimana mungkin kita melatih generasi masa depan hanya dengan buku teks dan format ujian yang sama seperti puluhan tahun lalu?” ujarnya. Ia menekankan bahwa ketimpangan antara tuntutan global dan metode pendidikan di sekolah-sekolah Indonesia kian melebar, menyebabkan banyak lulusan tidak siap menghadapi dunia kerja modern.

Para pengamat pendidikan sendiri telah lama mengeluhkan kecepatan perubahan sistem pendidikan Indonesia, yang menurut mereka cenderung berjalan lambat dibandingkan kebutuhan industri maupun masyarakat.

Metode Mengajar yang Tidak Lagi Efektif

Anies juga menyinggung pola pengajaran tradisional yang masih dominan di sekolah, terutama metode ceramah satu arah. Ia menilai bahwa pendekatan tersebut tidak lagi mampu membentuk karakter dan kecakapan berpikir kritis peserta didik.

“Anak-anak kita bukan robot yang tugasnya hanya menerima instruksi,” katanya. Menurutnya, guru harus diberi ruang untuk berinovasi, termasuk dengan memperkuat project-based learning, metode kolaboratif, dan pemanfaatan teknologi pendidikan.

Ia menambahkan bahwa salah satu akar masalah adalah kurangnya pelatihan berkelanjutan bagi guru. Banyak pendidik, katanya, terjebak pada rutinitas mengajar yang tidak memberi ruang untuk perkembangan profesional.

Kesenjangan Digital dan Tantangan Infrastruktur

Selain soal metode, Anies menyoroti masalah kesenjangan digital yang masih sangat besar. Di sejumlah daerah, akses internet belum memadai; sementara itu, kebijakan pendidikan nasional terus mengarah pada digitalisasi.

“Ironisnya, kita bicara soal pembelajaran digital tetapi masih ada siswa yang harus naik bukit hanya untuk mencari sinyal,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa digitalisasi tidak boleh hanya berhenti pada slogan, tetapi harus dibarengi dengan pembangunan infrastruktur yang merata.

Para pemerhati pendidikan menilai bahwa kesenjangan digital ini memang menjadi hambatan utama implementasi pembelajaran berbasis teknologi. Tanpa perbaikan serius, digitalisasi pendidikan dinilai hanya akan menambah jurang antara siswa perkotaan dan daerah terpencil.

Respons Publik: Antara Mendukung dan Menilai Terlalu Dramatik

Pernyataan Anies mendapatkan reaksi beragam. Para pendukungnya menyebut kritik tersebut sebagai cerminan kegelisahan banyak orang tua, guru, dan siswa yang merasakan ketertinggalan sistem pendidikan. Di berbagai platform, warganet membagikan pengalaman mereka tentang materi yang dianggap tidak relevan, beban belajar yang terlalu berat, serta minimnya inovasi di sekolah.

Namun, sebagian pihak menilai bahwa kritik Anies terkesan terlalu dramatis. Mereka berpendapat bahwa sistem pendidikan nasional memang tengah mengalami proses perubahan yang bertahap, meski hasilnya belum maksimal. Ada pula pihak lain yang menilai bahwa kritik tersebut sarat politisasi, terutama karena dilontarkan menjelang meningkatnya suhu politik nasional.

Meski begitu, tidak sedikit pihak netral yang mengakui bahwa kritik tersebut layak menjadi bahan evaluasi bersama. Mereka menekankan bahwa pendidikan memang harus lebih adaptif, fleksibel, dan visioner.

Panggilan untuk Reformasi Fundamental

Di penghujung pidatonya, Anies menyampaikan bahwa perbaikan pendidikan tidak cukup dengan revisi kurikulum atau penambahan fasilitas. Menurutnya, diperlukan reformasi menyeluruh yang menyentuh filosofi dasar pendidikan nasional.

Ia mengajak berbagai pemangku kepentingan pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan dunia usaha untuk bersinergi melakukan transformasi besar. Ia menekankan pentingnya menyusun sistem pendidikan yang mampu membekali generasi muda dengan kompetensi relevan, bukan sekadar mengikuti aturan lama yang sudah usang.

“Jika kita ingin Indonesia maju, kita harus berani meninggalkan cara lama. Masa depan terlalu cepat bergerak untuk kita kejar dengan langkah yang lambat,” pungkasnya.