Rukun Wudhu dan Hal Yang Membatalkannya Menurut Imam Syafi’i dan Imam Hanafi

Waspada Ketika Wudhu, Parasit Air Pemakan Otak Ini Bisa Membahayakanmu

Di dalam Islam setiap umat muslim yang hendak beribadah, baik itu sholat atau membaca Al-Qur’an, maka diharuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu dengan berwudhu. Wudhu merupakan cara bersuci dari hadast kecil dan merupakan syarat sahnya sholat. Tanpa bersuci dari hadast kecil, sholat yang dilakukan dalam kondisi normal (bukan rukhsah) tidak sah karena tidak memenuhi syarat. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, seorang muslim hendaknya selalu menjaga wudhunya. Berwudhu haruslah mengikuti langkah-langkah atau rukun wudhu seperti yang telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW agar pelaksanaan wudhunya sah.

Rukun Wudhu

Ada perbedaan rukun wudhu antara Imam Syafi’i dan Imam Hanafi, berikut adalah ulasannya :

  • Menurut Imam Syafi’i

Rukun wudhu menurut Imam Syafi’i adalah sebagai berikut :

  1. Niat ketika membasuh wajah
  2. Membasuh wajah
  3. Membasuh kedua tangan sampai siku
  4. Mengusap sebagian kepala dan rambut yang ada di atas kepala
  5. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki
  6. Tartib (mendahulukan anggota tubuh yang seharusnya di awal dan mengakhirinya dengan anggota tubuh yang seharusnya di akhir)

Imam Syafi’i berpendapat bahwa niat dalam berwudhu adalah merupakan salah satu rukun wudhu yang wajib dilakukan. Hal tersebut didukung dengan adanya hadist berikut ini:

“Sesungguhnya sahnya beberapa amal harus disertai niat, setiap orang akan memperoleh atas apa yang ia niati”(HR Bukhari Muslim)

  • Menurut Imam Hanafi

Sementara menurut Imam Hanafi rukun wudhu adalah sebagai berikut :

  1. Membasuh wajah
  2. Membasuh dua tangan sampai siku
  3. Membasuh kepala atau rambut (minimal seperempat kepala)
  4. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki

Di dalam rukun wudhu menurut Imam Hanafi tidak ada niat, karena niat bukan bagian dari wudhu, walaupun terdapat sebuah hadist yang berbunyi sebagai berikut :

“Sesungguhnya sahnya beberapa amal harus disertai niat, setiap orang akan memperoleh atas apa yang ia niati”(HR Bukhari Muslim)

Dari hadist tersebut, Imam Hanafi berpendapat bahwa hadist tidak menunjukkan adanya kewajiban dari niat, oleh karena itu niat ketika berwudhu bukan menjadi hal yang wajib, melainkan sunnah, karena niat menjadi bentuk kesempurnaan dalam suatu ibadah. Imam Hanafi juga tidak mewajibkan adanya tartib (aturan berurutan) dalam berwudhu. Hal ini dikarenakan dalam kitab suci Al-Qur’an tidak terdapat adanya ayat yang mewajibkan tartib ketika berwudhu. Sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Maidah ayat 6, yang menunjukkan bahwa kewajiban membasuh beberapa anggota tubuh dan mengusap kepala, sama sekali tidak menunjukkan kewajiban tartib dalam berwudhu.

Hal-hal yang Membatalkan Wudhu

Menurut Imam Syafi’i terdapat hal-hal yang dapat membatalkan wudhu, diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Keluarnya sesuatu dari salah satu dua jalan, (qubul dan dubur)selain sperma
  2. Tidurnya orang yang tidak menempatkan pantatnya pada tempat duduk
  3. Hilang akal sebab gila, mabuk, epilepsi atau sakit
  4. Bersentuhan kulit dengan yang bukan muhrimnya
  5. Menyentuh alat kelamin baik milik sendiri maupun orang lain dengan tangan atau jari-jari tangan

Menurut Imam Hanafi

Sementara Menurut Imam Hanafi, hal-hal yang dapat membatalkan wudhu, diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Keluarnya sesuatu dari salah satu dua jalan, (qubul dan dubur)
  2. Keluar darah atau nanah dari satu anggota badan yang melebihi batas tempat keluarnya (darah atau nanah keluar dalam jumlah yang banyak)
  3. Muntah
  4. Tidur terlentang, miring atau bersandar
  5. Hilang akal sebab gila, mabuk, epilepsi atau sakit
  6. Qohqohah (tertawa dengan keras)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *