Menghitung Honor Karyawan Pada Masa Percobaan

Saat perusahaan mendapat karyawan baru, karyawan terlebih dahulu melalui masa pembinaan atau percobaan (probation). Masa percobaan ini memang sebagai fase yang memilih kecocokan karyawan menggunakan perusahaan. Setelah lolos menjalankan masa percobaan, baru kemudian karyawan sebagai karyawan kontrak atau karyawan tetap. Pada masa percobaan, karyawan dinilai kinerja yg dilakukannya. Lalu bagaimana perhitungan gaji karyawan pada masa percobaan atau probation ini? Di bawah ini, kita akan membahas dengan lebih mendalam tentang dasar hukum dan cara menghitungnya.Ketentuan Waktu & Gaji Karyawan Masa Percobaan

Sebelumnya kita ketahui dulu Peraturan Pemerintah mengenai masa percobaan. Pada Pasal 60 Undang-Undang Ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003 telah ada anggaran tentang masa percobaan karyawan baru. Untuk masa percobaan, perusahaan menerapkan kontrak kerja dengan karyawan. Masa percobaan buat Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT) sanggup dilakukan aporisma tiga bulan. Tapi, buat sebagian perusahaan pula ada yg menerapkan masa percobaan 6 bulan.

Saat masa percobaan, pihak perusahaan juga membayarkan gaji karyawan di masa percobaan menggunakan nominal yg disepakati. Nilai gaji di masa percobaan bisa dimulai berdasarkan UMR dan mampu ditingkatkan sehabis karyawan lolos masa percobaan. Dalam hal ini ada perbedaan, antara 3 bulan pertama & ke 2.

Untuk perusahaan yang masa percobaannya enam bulan, maka buat tiga bulan berikutnya merupakan masa kerja dan bukan masa percobaan karyawan. Tapi, ketentuan tadi adalah buat PKWTT. Berdasarkan pasal 58 Undang-Undang Ketenagakerjaan, ketentuan buat masa percobaan nir berlaku buat PKWT (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu) atau karyawan kontrak. Tidak berlaku jua buat pekerja freelance.

Perhitungan Gaji Karyawan Masa Percobaan

Saat menjalani masa percobaan, umumnya karyawan terikat kontrak kerja yang diklaim PKWT. Untuk perhitungan gaji karyawan di masa percobaan sebenarnya nir jauh berbeda Gaji apabila dibanding karyawan permanen. Tapi, yang membedakan adalah bagian komponen gaji yg tertulis pada surat kontrak. Contohnya buat karyawan pada masa percobaan belum mendapat asuransi, uang transport, uang makan, tunjangan skill, dan lain-lain.

Meskipun demikian, karyawan permanen mendapat potongan pajak PPh 21 apabila honoryg diterima lebih menurut batas PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak). Sementara itu, perhitungan gajinya dihitung menggunakan perhitungan harian atau bulanan. Contohnya mampu ditinjau ini dia.a. Contoh Perhitungan Gaji Masa Percobaan (Sistem Bulanan)

Agus adalah karyawan yg baru diterima di perusahaan A yg terletak pada kota Surabaya dan dia sedang menjalani masa percobaan. Sebagai seseorang karyawan lajang di masa percobaan, honorpokoknya sebanyak Rp 4,4 juta per bulan tanpa terdapat tunjangan.

Dengan demikian, total gaji Agus pada setahun adalah:

Rp 4,4 juta x 12 bulan = Rp 52,8 juta.

Karena gajinya masih belum hingga PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak), yaitu Rp 54 juta, maka nir perlu dipotong pajak.

Dengaan catatan, jumlah honorbulanan buat Agus bisa berubah menyesuaikan kebijakan pada perusahaan berkaitan dengan biar, cuti, keterlambatan, & sebagainya.b. Contoh Perhitungan Gaji untuk Sistem Harian

Ali merupakan karyawan lajang yg bekerja di perusahaan B di Jakarta dengan gaji Rp 4,8 juta. Ia sudah bekerja selama 21 hari.Gaji harian yang diperoleh Ali merupakan sebesar:

Rp 4,8 juta : 21 hari = Rp 228,571 per hari

Nominal honorhariannya tidak lebih dari Rp450 ribu (sinkron ketentuan PTKP harian, nominal kena pajak merupakan 450 ribu). Tapi, nominal penghasilannya tidak sama buat hari-hari tertentu.Pada hari ke-15, honorharian Ali adalah sebesar:

Rp 228,571 × 15 = Rp 3.657.142,85

Besarnya nominal tadi juga belum mencapai ketentuan PPh harian. Bagaimana dengan hari-hari berikutnya?Untuk hari ke-20, gaji harian Ali merupakan sebanyak:

Rp 228,571 × 20 = Rp 4.571.428,57

Gaji Ali jika diakumulasi hari ke-20 merupakan sebesar Rp 4.571.428,57. Angka tersebut sudah lebih dari PPh. Dengan demikian, perhitungan gaji karyawan tersebut pada masa percobaan merupakan menjadi berikut:

Gaji kumulatif dalam hari ke-20 : Rp 4.571.428,57

Dilihat menurut jumlah tersebut, Ali terkena pajak pada hari ke-20 bekerja.

Pendapatan Kena Pajak (PKP) = Gaji selama 20 hari – Pendapatan Tidak Kena Pajak (PTKP)

PKP = Rp 4.571.428,57  – (20 × (Rp 54.000.000 : 360)

Rp 4.571.428,57 – Rp 3.000.000 = Rp 1.571.428,57

Langkah berikutnya merupakan menghitung PPh 21 Terutang 20 hari. Berdasarkan Pasal 17 ayat 1, tarif pajaknya adalah 5%.

Gaji bersih hari ke-20 = 5% × Pendapatan Kena Pajak

lima% × Rp 1.571.428,57 = Rp 78.571,42

Pada hari ke-20, Ali mendapat gaji higienis harian sebanyak Rp 228,571 – Rp 78.571,42 = Rp 149.999,58  (mampu dibulatkan menjadi 150.000).

Bagaimana Jika Pada Masa Percobaan, Performa Karyawan Buruk?

Selain memperhatikan honorkaryawan pada masa percobaan, ternyata masih ada lagi hal yang tidak kalah krusial. Bagaimanapun, performa karyawan permanen sebagai aspek primer. Karena gaji yg diberikan bukan hanya mengenai ketika kerja yg dilewati, akan tetapi juga seberapa bagus performanya. Performa pada hal ini bisa menghipnotis hitungan gaji saat belum menjadi karyawan tetap.

Ketidakhadiran karyawan mampu menjadi poin evaluasi tersendiri. Saat karyawan menampakan performa yg buruk atau tidak sinkron ekspektasi, hal ini merupakan peringatan bagi perusahaan. Kurangnya performa yang berkelanjutan atau nir terdapat pemugaran mampu berarti karyawan sebenarnya tidak cocok menggunakan posisinya.

Pihak perusahaan pula masih memberi kesempatan pemugaran performa, misalnya dengan memberi variasi tugas. Tentunya saat itu honorpermanen diberikan menggunakan adil sesuai kebijakan yang berlaku. Saat masa percobaan, karyawan sanggup diberikan peringatan sebelum batas waktu. Dengan demikian, keputusan dari perusahaan bisa dijalankan tanpa terkesan sepihak.Kesimpulan

Demikianlah beberapa hal penting mengenai perhitungan honorkaryawan di masa percobaan yg usahakan diketahui perusahaan juga karyawan itu sendiri. Memang benar bahwa dalam beberapa hal, hak & kewajiban karyawan masa percobaan tidak sama dengan karyawan permanen. Pada fase ini, karyawan masih mencoba menyesuaikan menggunakan budaya kerja di perusahaan. Sementara itu, perusahaan menggali potensi terbaik karyawan buat memastikan tentang kecocokan skill maupun karakternya.

Yang penting buat dipertimbangkan perusahaan adalah tentang manajemen kehadiran karyawan. Ada sebagian perusahaan yg baru mendaftarkan identitas karyawan sesudah mereka lolos percobaan. Setelah lolos mereka baru bisa melakukan presensi kehadiran ketika masuk dan keluar. HR perlu mengurus manajemen kehadiran dan pengelolaan data karyawan seefisien mungkin.

Agar lebih mudah buat mengelola data karyawan di masa percobaan, khususnya terkait kedisiplinan, aplikasi absensi online menurut Kerjoo.com sanggup membantu Anda. Untuk sistem kerja fleksibel maupun jam kerja permanen, semua sanggup disesuaikan. Dengan demikian, produktivitas karyawan permanen terjaga.

Aplikasi absensi Kerjoo pula mempunyai tambahan fitur Toleransi Keterlambatan untuk bisa dimanfaatkan  perusahaan. Tujuannya merupakan memberi kemudahan pada karyawan ketika melakukan absensi. Kerjoo membantu melakukan pencatatan dan perhitungan jumlah jam keterlambatan sinkron menggunakan batas yang diperbolehkan perusahaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *